Arsip untuk tempo doeloe

Kertas

Aku suka kertas. Cinta kertas. Bau kertas saja bisa membuatku bahagia. Mungkin seperti bila kamu mencium bau makanan yang enak, bau susu segar atau pun lainnya yang kau suka.

Sejak kecil ayah memang selalu menghadiahi kertas, karena mungkin itulah yang bisa diberikannya. Tapi kertas menjadi media istimewa untukku. Aku bisa masuk ke dunia khayalan yang mengasikkan.

Waktu kecil aku sangat malas untuk makan. Apalagi nasi…. Uhh. Tidak heran jika tubuhku kecil dan kurus… Aku lebih suka makan mangga muda atau buah-buahan lain daripada makan nasi dengan lauk pauknya. Aku sering membayangkan jika aku menjadi monyet, pasti aku akan sangat bahagia karena tidak perlu minum susu, makan nasi dan makan daging.

Nah, soal kertas …

Saat ayah bertugas di Makassar, ia kerap didatangi orang yang butuh bantuannya dalam membuat passport, visa dll. Ayah tidak pernah mau menerima mereka di rumah, karena, seperti katanya, itu pekerjaan kantor. Bukan pekerjaan rumah. Namun, tetap saja ada orang yang mencoba-coba datang ke rumah.

Siang itu, ketika hanya ada aku di rumah, datanglah seorang laki-laki keturunan Tionghoa. Bercelana hitam dan kemeja putih. Ia mengatakan jika ingin bertemua ayah. Tetapi ayah belum juga pulang dan pembantu menyuguhkan teh manis untuknya. Maka, jadilah aku nyonya rumah menghadapinya. Aku tidak tahu ke mana ibuku hari itu (atau mungkin saja saat itu ia sibuk berdharma wanita di kantor ayahku). Yang jelas aku ingat jika kami mengobrol. Sempat ia menanyakan barang apa yang sangat kuinginkan. Aku menjawab ‘ buku tulis!’. Maka ia berjanji akan membawakan setumpuk buku tulis ketika akan datang minggu depan menemui ayah. Ia berpesan agar aku menyampaikan pesannya kepada ayah.

Benar saja, minggu depannya ia datang kembali. Tetapi, ayah tidak juga pulang siang itu. Ia sangat sibuk. Ia sudah berpesan padaku agar mengatakan pada tamu yang datang bahwa ia akan pulang malam karena sedang sibuk di kantor.

Ketika oom Cina itu datang aku sangat bahagia. Bagaimana tidak,… ia memenuhi janjinya ! Ia membawa bungkusan coklat tebal. Ketika kubuka ternyata isinya adalah setengah lusin buku tulis kertas merang bersampul biru ungu. Aduh, bukan main senang hatiku. Buku tulisku semuanya sudah hampir penuh. Biasanya aku sengaja menulis kecil-kecil hingga ke ujung baris supaya kertas tidak cepat habis. Kertas bekas kalender pun sering kupakai untuk menggambar dan itu menjadi barang istimewa bagiku, karena kertasnya tebal dan licin. Sore itu tumpukan buku itu kucium berkali-kali. Aroma kertas dan tinta yang ditebarkannya begitu memesona dan membuat perutku merasa kenyang. 

Ketika malam tiba ayah pulang. Kuceritakan tentang oom yang baik hati itu. Lama ayah terdiam sambil memandangi tumpukan buku itu. Ia juga memandangiku sambil terus berpikir. Akhirnya dengan sangat lembut ia memegang lengan kurusku dan mengajakku mengobrol. Ia bercerita jika ia akan bertugas ke Jakarta. Ketika itu aku boleh memesan berbagai macam barang yang kuinginkan. Aku langsung saja menuliskan deretan barang keperluanku; tempat pinsil bermagnet, pinsil warna, penghapus, buku mewarnai…..  Ia mengusulkan ‘buku tulis’. aku menolak. Toh sudah ada buku tulis dari oom yang baik hati itu? Ia menggeleng, katanya…. kami harus mengembalikan buku tulis itu. Aku heran sekaligus marah. kenapa barang pemberian orang harus dikembalikan ? Bukankah oom itu sangat baik hatinya ? Ayah menggeleng perlahan, ( ia tidak bisa menjelaskannya dengan lebih baik kepada anak seusiaku ).. aku dimintanya membungkus kembali buku tulis setengah lusin itu. Sambil menggerutu aku mengerjakan perintahnya. Menyerahkan kepadanya dengan berat hati.

‘Besok oom itu akan datang kan ?…. daddy akan menemuinya’. Katanya sambil berjalan dengan sandal yang ditepuk-tepukkan ke lantai, kebiasaannya saat berjalan (mungkin ia tengah kesal).

Keesokan sorenya aku dan ayah duduk di ruang tamu. Siap menunggu oom baik hati itu. Oh, aku sudah mandi dan siap di kursi ingin melihat dan menjadi saksi apa saja yang akan dikatakan ayah kepada oom itu. Huh ayah payah ! Gerutuku dalam hati. Seperti yang sudah dijanjikannya, oom baik hati itu datang. Kami saling tersenyum dan membalas sapa. Aku senang padanya karena ia ramah dan bukankah kami sudah berteman ? Ayah tampak tersenyum kaku dan mempersilakannya duduk. Aku tidak mengerti apa yang mereka perbincangkan tetapi berkali-kali aku melihat ayah menggeleng. Di akhir pembicaraan mereka yang membosankan itu dengan sangat sopan ayah menyodorkan bungkusan coklat berisi buku tulis itu. Tentu saja oom itu terkejut dan memandangku. Aku memandangnya menghiba agar ia menolak ayahku. Ah benar! ia menyorongkan tangan ayah. Tetapi ayah bersikeras mengembalikan tumpukan buku itu. Bolak-balik sorong menyorong terjadi. Akhirnya laki-laki baik hati itupun menerimanya. Ia berjalan gontai. Wajahnya tampak kecewa. Aku ingin menghiburnya. Tetapi ia tidak mau melihat wajahku. Hei, aku temanmu ! aku ingin berteriak. Tetapi ia membuang wajahnya dan berlalu begitu saja. Aku heran…. tidak mengerti apa yang baru saja terjadi. Ayah tersenyum padaku dan meraih kepalaku. Malam itu aku menceritakan kejadian itu pada ibuku. Sore itu aku telah menjadi saksi pembicaraan orang dewasa yang membingungkan.

     

 

Komentar bertahan »

Jalan Kakaktua

Tahun 70-an awal di Makassar adalah masa-masa yang tidak akan terlupakan. Aku mengawali masa-masa duduk di bangku sekolah dasar di sana. Memori itu sedemikian kuat ternanam di kepalaku. Masa-masa kecil yang sangat membahagiakan.

Tahun 1969 kami pindah ke Makassar. Kami tinggal di jalan Kakatua no. 22. LEbih besar dari rumah dinas ayah di jalan Muararajeun Bandung. Di samping rumah yang baru ada stasiun TVRI (!!), bayangkan bila bertetangga dengan stasiun TV dengan antena menjulang ke langit. Rasanya seperti kerdil di samping raksasa. Di seberang rumah ada Universitas Muslim Indonesia (UMI). Rumah tempat tinggalku adalah rumah dinas ayahku. Di masa itu, rumah tersebut milik Dept. Kehakiman. Rumah kembar tersebut disatukan dengan paviliun kecil yang menjadi bagian dari rumah kami. Bagian yang lebih besar itulah yang menjadi fasilitas yang dinikmati ayahku selaku Kepala Imigrasi di Makassar saat itu. Rumah kembar yang menempel di sebelah kiri adalah rumah keluarga Oom Djarwono, ayah mbak Nanik, putri tunggal mereka. Sebelum jalan raya diperlebar, kebun di depan rumah kami cukup luas. Setelah ada pelebaran jalan, halaman tersebut berkurang banyak. Yang pasti, kebun bunga milik ibuku terpangkas karenanya. Di tahun 70 itu kami bertetangga dengan rumah dinas PU ( di samping kanan ), di sana aku mengenal Ungke, keponakan Ronni Pattinasarani (mantan kiper handal PSSI ). Selain Ungke karibku yang lain adalah Basso yang muncul begitu saja entah dari mana. Ada lagi Raymond dan Lia (Natalia) , putra dan putri keluarga Jend. Maramis yang tinggal di seberang rumah kami. Sepasang kakak beradik itu menawarkan persahabatan dengan menyerahkan kaleng susu kental manis berisikan seekor ikan mas kepadaku (oh how sweet they were !!). Di rumah Oom Maramis inilah aku sering menonton kakak Andi Meriam Matalatta berlatih menyanyi bersama Joyce, kakak Lia. Band mereka cukup lengkap dan canggih untuk ukuran saat itu. Waktu itu rasanya kak Andi Meriam belum lagi menjadi penyanyi. Mereka masih duduk di bangku SMA.

Rumah di jalan Kakaktua itu cukup besar. Ada sebuah kamar utama yang bersebelahan dengan kamar lain di dekatnya. Ada sebuah kamar mandi dan WC terpisah di dalam. Ada sebuah ruang tamu yang dipisahkan oleh bufet dari ruang makan di dekatnya. Di belakang, ada dapur dan sebuah lagi dapur luar. Di samping dapur yang gelap bila tidak dinyalakan lampunya ada kamar pembantu yang bersebelahan dengan kamar mandi pembantu. Kamar mandi ini bersebelahan dengan kamar mandi rumah di sebelahnya. Sumur yang digunakan untuk mandi hanya satu dan dipisahkan hanya dengan selapis dinding. Pembantu rumah kami, (biasanya ada 3-5 pembantu yang bekerja pada kami) pernah mengajakku menonton pemuda tetangga mandi. Para pemuda ini sengaja mempertontonkan bagian tubuh mereka lewat bibir sumur yang dapat dilihat dari bagian rumah kami. Pembantu-pembantu kami tertawa-tawa senang sementara para pemuda itu pun terdengar senang dengan atraksi mereka. Aku bingung dengan tingkah mereka yang tiba-tiba berubah jadi binal itu.    

 

 

 

Komentar bertahan »

Daddy

Ayahku mutlak milikku

Saat itu usiaku sekitar 7 atau 8 tahun. Di mataku, ayah adalah milikku. Hanya seorang perempuan lain yang boleh dekat dengannya. Tak lain ia adalah ibuku. Aku merasa berhak penuh atas ayahku. Ibuku adalah peminjam yang harus meminta izin dariku. Oh ya, sejak aku punya adik aku kerap tidur dengan ayahku…. Aku suka sekali mendengarkan siaran radio Australia dari transistor miliknya. Acara yang paling kusukai adalah sandiwara radio di hari Kamis malam. Biasanya sandiwara itu mengisahkan kisah horor. Jika merasa takut biasanya aku minta agar ayah memelukku. Hal itu juga kulakukan bila aku kedinginan. Biasanya ayah akan memeluk punggungku dan aku melingkar dalam dekapannya. Bila aku merasa gelisah biasanya ia akan menyilangkan kakinya menindihi pahaku. ( Setelah remaja tentu saja aku tidur sendiri, tetapi aku sering menempelkan punggungku di dinding di kala aku merasa susah tidur ).

Marahku pada ayahku.

Marah. ada 2 hal yang membuatku naik pitam ketika duduk di bangku SD.Aku marah kepada ayah yang tidak juga mau berhenti merokok. Aku benci ayahku. Asap rokok membuat rambutku bau. Juga ruang-ruang di rumah. Ketika kebencian itu memuncak aku masuk ke kamar. Saat itu ayah berbuat salah sehingga rasanya patut kubalas. Ayah sudah meminta maaf tetapi akutidak mau memaafkannya. Di kamar aku mulai menangis. Kutebarkan korek api satu box besar di kamar. Lalu kuludahi semuanya hingga basah. Huh…aku puas.. Setelah itu aku masukkan lagi korek api itu ke dalam box itu. ( Ketika telah menikah, aku memiliki 2 jagoan kecil yang melakukan hal  mirip terhadap  ayah dan suamiku. Keduanya memang perokok berat. Anakku yang marah membuang satu slof rokok eyangnya ke kolam dan ketika ia marah kepada ayahnya ia menyelupkan rokok ayahnya ke dalam teh… )

Aku marah kepada ayah ketika ia memasang kalender SANYO (berlogo si kembar berambut merah dan biru yang saling berpelukan) bergambar perempuan Jepang yang cantik. Perempuan berkerudung kuning itu tampak menatap siapa pun yang memandangnya. Ayahku mengatakannya di hadapan ibuku..’Cantik ya…onna Nippon ini… ia seolah melihat kita ke mana pun kita bergerak…mmmm cantik’. Kontan darah naik ke kepalaku. Di saat ayah dan ibu tidak di kamar aku ludahi kalender itu. Bagian bola matanya kutusuk dengan paku payung. Huh..puas sudah rasanya.

 

Komentar bertahan »

Ma bro, macho man !!

Sudah kukatakan bahwa aku memiliki seorang adik laki-laki. Ia begitu kalem dan lembut. Ia juga sering asik main sendiri. Serius. Manis. Tidak seperti aku yang urakan dan sering keluyuran bersama rombongan anak-anak laki-laki. Main meriam bambu atau pun mengejar layang-layang yang putus ( sudah tentu aku berada di urutan terbelakang sambil tergopoh-gopoh mengusung bambu pengait ). Aku juga lebih sering nangkring di atas pohon sambil makan mangga muda dan melempar bijinya ke mana saja. Mengadu layangan di atas genteng. Membuat ayunan dari kayu yang diikat tali jemuran di pohon dan lepas ketika sedang melayang zwiiinggg sehingga aku terlempar ke atas dan jatuh mendarat dengan pantat. Membuat kepala boneka dari lilin yang dibakar di balik pintu untuk menghalangi angin yang bertiup mematikan api lilin. Meraut ketapel yang dibuat dari cabang pohon. Ngebut dengan sepeda mini dan terperosok ke got yang baru dibuat karena menghindari tabrakan dengan pedagang kaki lima. Main hujan bertelanjang di depan rumah brsama teman-teman lelaki yang juga bertelanjang (aku sungguh tersinggung ketika mereka mengusirku dan menyuruhku masuk ke rumah memakai baju dan mengatakana bahwa tubuh kami berbeda usiaku saat itu 8 tahun, duduk di kelas 3 SD).  Sementara itu adikku ayem menyusun batu-batu di sekeliling rumah, mungkin berkhayal tentang proyek-proyek ciptaannya. Di rumah aku mengajaknya berkhayal sambil menempatkannya di atas meja. Adikku yang montok, ganteng dan menggemaskan itu kutaruh di atas meja kecil seukuran tubuhnya sementara aku masuk ke kolongnya. Ia menjerit-jerit ketika meja kugoyangkan dengan tubuhku. kukatakan bahwa ia akan kubawa serta ke mana pun aku pergi. Ayah yang melihat kami tentu saja marah-marah…siapa lagi kalau bukan kepadaku. Aku benci ayah karena ia selalu memarahiku saat aku bermain dengan adikku. Oh ya, aku pernah memecahkan semprong lampu tempel dan pecahan kacanya yang halus melukai pantat adikku yang montok sehingga darah berceceran di mana-mana…. aku ingat bagaimana air hangat menjadi merah saat pantat montoknya didudukkan di baskom.   

Aku ingat bagaimana aku berusaha mengajarinya menjadi lelaki tangguh. Menurutku, lelaki tanggung musti mahir melompat maka….huup..hup… aku contohkan padanya bagaimana melompat dari pagar. Adikku berteriak “hati-hati Nana… jangan…. nanti jatuh..” . ?!?!?!?!?!?! oh so sweet…. dia mengkhawatirkanku. Padahal aku sedang mengajarinya agar ia menjadi sedikit ‘garang’.  OK OK. Mengajaknya main meriam bambu atau mengejar layang tak mungkin. ia masih kecil… Menurutku, untuk menjadikannya lelaki macho adalah memberinya contoh yang macho pula. Baiklah…mulai saat itu aku selalu menjadi kembarannya dalam berpakaian. Tidak banyak sih…. baju kami hanya beberapa helai. Seragam sekolah tidak mungkin lah. Aku pakai rok. Rambut ? OK… aku mencukur rambutku di barber shop….dengan gaya cukup macho. Mmmm cara duduk….aku nangkring sambil mengangkat satu kakiku saat duduk di meja makan. Eits…. kulakukan saat ibu dan ayahku sedang tidak memperhatikan kami. Hmm…. baik, akhirnya aku memilih baju bermain yang sama, celana pendek dan T sihrt. Ia warna biru dan aku warna coklat. Baju setelan buatan Cina itu dibeli di jalan Nusantara. Wuah bahannya kasar dan gatal..tapi ..apa boleh buat. Hanya baju itu yang punya ukuran beragam. Aku cukup puas. Dengan demikian, aku pikir, aku akan mengajarinya menjadi lelaki tangguh dengan lebih sempurna….. 

Komentar bertahan »