Menunggu
Ketika lelah mendera berkepanjangan memori di masa kanak-kanak kembali terlintas.
Alangkah manisnya. Walau pun semuanya telah berlalu puluhan tahun lalu, namun kenangan di masa kecil meninggalkan sebuah cetak biru yang belakangan kusadari telah membentuk kepribadianku, cara berpikir dan juga termasuk bagaimana caraku memilih pasangan.
Kembali ke masa-masa lalu. Ternyata ada sebuah benang merah yang tidak dapat terhapuskan walau oleh waktu yang membentang. Mereka yang pernah kukagumi adalah mereka yang memiliki kepribadian kuat. Mereka yang memiliki sense of leadership. Mereka yang serius dan terkadang agak kaku dalam bersikap. Mereka yang tidak romantis, kadang menjengkelkan dan terkadang asik dengan dunia mereka sendiri. Ha ha ha … dan lucunya prototipe seperti ini kutemukan di saat usiaku 14 tahun.
Semua terjadi begitu saja. Tanpa memandang suku, ras agama bahkan bangsa sekali pun. Semua menuntunku di alam bawah sadar, dengan segala sifat kanak-kanak dan lugu tanpa pamrih dan rasa curiga sedikit pun. Seperti juga ketika tangan-tangan malaikat membimbing kanak-kanak di dunia permainannya. Dan aku menggenggam tangan malaikat yang mengajakku bermain dan mengenal prototipe pasangan hidupku kelak. Dengan penuh malu kami bertemu dan bermain. Mengenal dunia kasih tanpa pamrih yang murni. Dan ketika waktu membentang, memisahkan dengan jarak, aku kembali menyusuri jalan-jalan waktu berbekal cetak biru di tanganku. Sebuah cetak biru yang telah dititipkan malaikatku selalu kugenggam. Tanpa kusadari.
Waktu berlalu … ketika segalanya melewati garis cetak biru itu, aku akan berpaling, kembali menyusuri cetak biru yang telah dititipkanNya padaku. Namun dunia terkadang merubah langkahku. Dan itu terjadi berulang kali. Hingga suatu saat aku pasrah padaNya. Dan malaikatku membimbing tanganku kembali. Aku pasrah dan mengharapkan kedamaian di langkahku. Kuikuti cetak biru tanpa pamrih, seperti juga ketika masa kanak-kanakku. Aku mengikutinya, namun kali ini dengan kesadaran yang sepenuhnya. Dan aku menemukannya. Ia berjalan di sisiku. Aku bersyukur dan membangun kehidupan dengan cetak biru yang telah ditentukanNya.
Ketika lelah mendera. Aku menelusuri dunia maya dan menemukan sebuah jejak yang ditinggalkan oleh dia dari masa kanak-kanakku. Walau pun hanya sebuah noktah namun aku bahagia. Tahu jika ia pun tetap mengenangku, sebagai bagian dari perjalanan hidupnya.
How are you doing ?









