YH

Kemarin,

Duduk di hadapanku seorang pemuda, bertubuh tinggi tegap. Mungkin sekitar 2 meter. Berkulit putih, berahang kuat dan bermata agak sipit. Senyumnya hangat. Pada awalnya kusangka ia keturunan Tionghoa, tetapi jika melihat sikap tubuhnya rasanya bukan. Akhirnya aku tahu jika pemuda itu keturunan Jepang (bernama YH).

YH, datang ke kantor untuk menanyakan soal surat yang dibawanya. Ia tidak bisa membacanya, karena berbahasa Jepang. Ketika kutanyakan, ia menjawab jika ia tidak pernah diajari bahasa Jepang oleh ayahnya yang orang Jepang. Karenanya ia ngotot untuk mengetahui apa isi surat yang diterimanya, sebab jika sangat penting ia harus segera mengirimkannya ke Kalimantan. Ternyata itu surat pemberitahuan dari kantor pensiun pemerintah Jepang. Mereka menginginkan konfirmasi mengenai kebenaran data  para pensiunan yang berhak menerima pensiun. Karena ternyata surat itu tidak mengandung sesuatu yang urgensi maka, aku mulai tergelitik untuk menanyakan hal lainnya.

YH, anak tunggal dari bapak H yang memiliki usaha di Kalimantan. Papanya ini tinggal di Indonesia, sesekali ke Jepang. Menurut YH, papanya tidak pernah menanyai keadaannya, menyentuhnya, bermain, memeluk, apalagi mengajari belajar. YH kesal dengan papanya yang kerap disebutnya ‘orang itu’. Ketika kecil, YH pernah ditampar dan ditonjok ketika melakukan kesalahan. Dikeplak di bagian kepala ? ya itu sering…. Aku tersenyum.  YH bercerita bahwa ayahnya sangat keras, tidak pernah membimbing dan hanya mengeluarkan uang untuk sekolah dan tranportasi. YH tampak marah dan kesal dengan sikap ayahnya. “Teman-teman sering bertanya ..apakah benar bapak H itu bapak saya”…”Habis dia seperti orang lain…. tidak bertanggung jawab !”.

” Saya pernah menemukan sebuah foto bayi, sangat mirip saya di waktu kecil. Ketika saya tanyakan papa mengatakan bahwa itu kakak saya, yang sekarang jadi pengacara sukses dan tinggal di Tokyo”. ” Papa juga bilang, kalau papa lebih keras terhadap kakak dibanding kepada saya”. ” Tak berapa lama kemudian papa memperlihatkan sebuah album penuh dengan foto bayi dan anak laki-laki yang memang sangat mirip dengan saya..”. ” Tetapi papa tidak pernah memberitahukan saya di mana kakak berada. ‘Orang itu’ cuma bilang kalau mungkin suatu saat saya akan ke Tokyo dan bertemu dia “.

Kepada YH saya mengatakan bahwa ia masih tetap beruntung, sebab memiliki ayah yang mau membiayai hidupnya. Cukup banyak lelaki Jepang yang tidak bertanggung jawab dan meninggalkan bayi-bayi sipit di gang-gang kumuh di Jakarta. Aku mengenal satu di antara mereka.

“Datanglah ke perpusatakaan di kantor ini, kenali ayahmu lebih jauh ” begitu ucapku ketika ia pamit. Mudah-mudahan sore itu menjadi sore yang indah untuk YH, setelah 20 tahun merasa bahwa ia tidak diingini oleh ayahnya. 

 

 

Ungkapkan pendapat Anda

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.