Jalan Kakaktua

Tahun 70-an awal di Makassar adalah masa-masa yang tidak akan terlupakan. Aku mengawali masa-masa duduk di bangku sekolah dasar di sana. Memori itu sedemikian kuat ternanam di kepalaku. Masa-masa kecil yang sangat membahagiakan.

Tahun 1969 kami pindah ke Makassar. Kami tinggal di jalan Kakatua no. 22. LEbih besar dari rumah dinas ayah di jalan Muararajeun Bandung. Di samping rumah yang baru ada stasiun TVRI (!!), bayangkan bila bertetangga dengan stasiun TV dengan antena menjulang ke langit. Rasanya seperti kerdil di samping raksasa. Di seberang rumah ada Universitas Muslim Indonesia (UMI). Rumah tempat tinggalku adalah rumah dinas ayahku. Di masa itu, rumah tersebut milik Dept. Kehakiman. Rumah kembar tersebut disatukan dengan paviliun kecil yang menjadi bagian dari rumah kami. Bagian yang lebih besar itulah yang menjadi fasilitas yang dinikmati ayahku selaku Kepala Imigrasi di Makassar saat itu. Rumah kembar yang menempel di sebelah kiri adalah rumah keluarga Oom Djarwono, ayah mbak Nanik, putri tunggal mereka. Sebelum jalan raya diperlebar, kebun di depan rumah kami cukup luas. Setelah ada pelebaran jalan, halaman tersebut berkurang banyak. Yang pasti, kebun bunga milik ibuku terpangkas karenanya. Di tahun 70 itu kami bertetangga dengan rumah dinas PU ( di samping kanan ), di sana aku mengenal Ungke, keponakan Ronni Pattinasarani (mantan kiper handal PSSI ). Selain Ungke karibku yang lain adalah Basso yang muncul begitu saja entah dari mana. Ada lagi Raymond dan Lia (Natalia) , putra dan putri keluarga Jend. Maramis yang tinggal di seberang rumah kami. Sepasang kakak beradik itu menawarkan persahabatan dengan menyerahkan kaleng susu kental manis berisikan seekor ikan mas kepadaku (oh how sweet they were !!). Di rumah Oom Maramis inilah aku sering menonton kakak Andi Meriam Matalatta berlatih menyanyi bersama Joyce, kakak Lia. Band mereka cukup lengkap dan canggih untuk ukuran saat itu. Waktu itu rasanya kak Andi Meriam belum lagi menjadi penyanyi. Mereka masih duduk di bangku SMA.

Rumah di jalan Kakaktua itu cukup besar. Ada sebuah kamar utama yang bersebelahan dengan kamar lain di dekatnya. Ada sebuah kamar mandi dan WC terpisah di dalam. Ada sebuah ruang tamu yang dipisahkan oleh bufet dari ruang makan di dekatnya. Di belakang, ada dapur dan sebuah lagi dapur luar. Di samping dapur yang gelap bila tidak dinyalakan lampunya ada kamar pembantu yang bersebelahan dengan kamar mandi pembantu. Kamar mandi ini bersebelahan dengan kamar mandi rumah di sebelahnya. Sumur yang digunakan untuk mandi hanya satu dan dipisahkan hanya dengan selapis dinding. Pembantu rumah kami, (biasanya ada 3-5 pembantu yang bekerja pada kami) pernah mengajakku menonton pemuda tetangga mandi. Para pemuda ini sengaja mempertontonkan bagian tubuh mereka lewat bibir sumur yang dapat dilihat dari bagian rumah kami. Pembantu-pembantu kami tertawa-tawa senang sementara para pemuda itu pun terdengar senang dengan atraksi mereka. Aku bingung dengan tingkah mereka yang tiba-tiba berubah jadi binal itu.    

 

 

 

Ungkapkan pendapat Anda

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.