Ma bro, macho man !!

Sudah kukatakan bahwa aku memiliki seorang adik laki-laki. Ia begitu kalem dan lembut. Ia juga sering asik main sendiri. Serius. Manis. Tidak seperti aku yang urakan dan sering keluyuran bersama rombongan anak-anak laki-laki. Main meriam bambu atau pun mengejar layang-layang yang putus ( sudah tentu aku berada di urutan terbelakang sambil tergopoh-gopoh mengusung bambu pengait ). Aku juga lebih sering nangkring di atas pohon sambil makan mangga muda dan melempar bijinya ke mana saja. Mengadu layangan di atas genteng. Membuat ayunan dari kayu yang diikat tali jemuran di pohon dan lepas ketika sedang melayang zwiiinggg sehingga aku terlempar ke atas dan jatuh mendarat dengan pantat. Membuat kepala boneka dari lilin yang dibakar di balik pintu untuk menghalangi angin yang bertiup mematikan api lilin. Meraut ketapel yang dibuat dari cabang pohon. Ngebut dengan sepeda mini dan terperosok ke got yang baru dibuat karena menghindari tabrakan dengan pedagang kaki lima. Main hujan bertelanjang di depan rumah brsama teman-teman lelaki yang juga bertelanjang (aku sungguh tersinggung ketika mereka mengusirku dan menyuruhku masuk ke rumah memakai baju dan mengatakana bahwa tubuh kami berbeda usiaku saat itu 8 tahun, duduk di kelas 3 SD).  Sementara itu adikku ayem menyusun batu-batu di sekeliling rumah, mungkin berkhayal tentang proyek-proyek ciptaannya. Di rumah aku mengajaknya berkhayal sambil menempatkannya di atas meja. Adikku yang montok, ganteng dan menggemaskan itu kutaruh di atas meja kecil seukuran tubuhnya sementara aku masuk ke kolongnya. Ia menjerit-jerit ketika meja kugoyangkan dengan tubuhku. kukatakan bahwa ia akan kubawa serta ke mana pun aku pergi. Ayah yang melihat kami tentu saja marah-marah…siapa lagi kalau bukan kepadaku. Aku benci ayah karena ia selalu memarahiku saat aku bermain dengan adikku. Oh ya, aku pernah memecahkan semprong lampu tempel dan pecahan kacanya yang halus melukai pantat adikku yang montok sehingga darah berceceran di mana-mana…. aku ingat bagaimana air hangat menjadi merah saat pantat montoknya didudukkan di baskom.   

Aku ingat bagaimana aku berusaha mengajarinya menjadi lelaki tangguh. Menurutku, lelaki tanggung musti mahir melompat maka….huup..hup… aku contohkan padanya bagaimana melompat dari pagar. Adikku berteriak “hati-hati Nana… jangan…. nanti jatuh..” . ?!?!?!?!?!?! oh so sweet…. dia mengkhawatirkanku. Padahal aku sedang mengajarinya agar ia menjadi sedikit ‘garang’.  OK OK. Mengajaknya main meriam bambu atau mengejar layang tak mungkin. ia masih kecil… Menurutku, untuk menjadikannya lelaki macho adalah memberinya contoh yang macho pula. Baiklah…mulai saat itu aku selalu menjadi kembarannya dalam berpakaian. Tidak banyak sih…. baju kami hanya beberapa helai. Seragam sekolah tidak mungkin lah. Aku pakai rok. Rambut ? OK… aku mencukur rambutku di barber shop….dengan gaya cukup macho. Mmmm cara duduk….aku nangkring sambil mengangkat satu kakiku saat duduk di meja makan. Eits…. kulakukan saat ibu dan ayahku sedang tidak memperhatikan kami. Hmm…. baik, akhirnya aku memilih baju bermain yang sama, celana pendek dan T sihrt. Ia warna biru dan aku warna coklat. Baju setelan buatan Cina itu dibeli di jalan Nusantara. Wuah bahannya kasar dan gatal..tapi ..apa boleh buat. Hanya baju itu yang punya ukuran beragam. Aku cukup puas. Dengan demikian, aku pikir, aku akan mengajarinya menjadi lelaki tangguh dengan lebih sempurna….. 

Ungkapkan pendapat Anda

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.