Daddy

Ayahku mutlak milikku

Saat itu usiaku sekitar 7 atau 8 tahun. Di mataku, ayah adalah milikku. Hanya seorang perempuan lain yang boleh dekat dengannya. Tak lain ia adalah ibuku. Aku merasa berhak penuh atas ayahku. Ibuku adalah peminjam yang harus meminta izin dariku. Oh ya, sejak aku punya adik aku kerap tidur dengan ayahku…. Aku suka sekali mendengarkan siaran radio Australia dari transistor miliknya. Acara yang paling kusukai adalah sandiwara radio di hari Kamis malam. Biasanya sandiwara itu mengisahkan kisah horor. Jika merasa takut biasanya aku minta agar ayah memelukku. Hal itu juga kulakukan bila aku kedinginan. Biasanya ayah akan memeluk punggungku dan aku melingkar dalam dekapannya. Bila aku merasa gelisah biasanya ia akan menyilangkan kakinya menindihi pahaku. ( Setelah remaja tentu saja aku tidur sendiri, tetapi aku sering menempelkan punggungku di dinding di kala aku merasa susah tidur ).

Marahku pada ayahku.

Marah. ada 2 hal yang membuatku naik pitam ketika duduk di bangku SD.Aku marah kepada ayah yang tidak juga mau berhenti merokok. Aku benci ayahku. Asap rokok membuat rambutku bau. Juga ruang-ruang di rumah. Ketika kebencian itu memuncak aku masuk ke kamar. Saat itu ayah berbuat salah sehingga rasanya patut kubalas. Ayah sudah meminta maaf tetapi akutidak mau memaafkannya. Di kamar aku mulai menangis. Kutebarkan korek api satu box besar di kamar. Lalu kuludahi semuanya hingga basah. Huh…aku puas.. Setelah itu aku masukkan lagi korek api itu ke dalam box itu. ( Ketika telah menikah, aku memiliki 2 jagoan kecil yang melakukan hal  mirip terhadap  ayah dan suamiku. Keduanya memang perokok berat. Anakku yang marah membuang satu slof rokok eyangnya ke kolam dan ketika ia marah kepada ayahnya ia menyelupkan rokok ayahnya ke dalam teh… )

Aku marah kepada ayah ketika ia memasang kalender SANYO (berlogo si kembar berambut merah dan biru yang saling berpelukan) bergambar perempuan Jepang yang cantik. Perempuan berkerudung kuning itu tampak menatap siapa pun yang memandangnya. Ayahku mengatakannya di hadapan ibuku..’Cantik ya…onna Nippon ini… ia seolah melihat kita ke mana pun kita bergerak…mmmm cantik’. Kontan darah naik ke kepalaku. Di saat ayah dan ibu tidak di kamar aku ludahi kalender itu. Bagian bola matanya kutusuk dengan paku payung. Huh..puas sudah rasanya.

 

Ungkapkan pendapat Anda

Anda harus Teridentifikasi untuk menuliskan komentar.