Arsip untuk Juni, 2008

Smabels go to S’Pore

Hatsyiiiiiii…. sepagi itu Anin sudah bersin. Wah, padahal dia harus berangkat siang nanti pk. 11:15 ke Singapore.

Ya, hari ini , Sabtu 29 Juni 2008 Anin dan 39 teman lainnya dari SMPN 115 berangkat ke Singapura. Mereka berangkat dalam rangka pertukaran pelajar Singapura-Indonesia. Selama lebih sepekan mereka akan sekolah dan sepulang sekolah akan memanfaatkan waktu dengan berpusing-pusing sikit di sekitar sekolah.

Pagi pukul 08:00, rombongan ABG yang baru saja menginjak masa remaja mereka ini sudah berkumpul di depan Dunkin Donat. Tampak jika mereka merasa tegang. Beberapa di antara mereka masih memeluk ayah-ibu mereka, meremas-remas jemari dan duduk menempel. Sebagian lagi tampak memaksakan diri bersikap tegar… walau tampak sesekali mencuri-curi pandang ke arah ayah/ ibu mereka.

Koper-koper mereka tampak sama besar dengan tubuh mereka yang baru mekar, terikat pita merah muda sebagai pertanda kelompok. Koper-koper ini tentunya berisi segala macam barang keperluan mereka, mulai dari baju dalam, baju luar, parfum pengusir bau tubuh atau pun odol pencuci gigi.

P09.00 setelah mendapat wejangan dari bapak kepala seolah, Mr. ADIDAS Min rombongan berbaris dan masuk ke dalam ruang pemeriksaan. Berangkatlah sudah putraku putra kami.

Menurut rencana mereka akan bersekolah di Queensway, sebagai pelajar observer yang mudah-mudahan saja mendapatkan banyak pengetahuan baru yang akan menjadi kenangan yang pasti membekas dalam ingatan mereka sepanjang hayat.

Selamat jalan anak-anak. Bunda, Ama, ade, eyang, mamah nene’, oom, ki dan semuanya menunggu kamu kembali dengan selamat.

semoga pengalaman ini menjadi kenangan manis di kemudian hari. 

Komentar bertahan »

KESAL

Jika sudah kesal begini, segala-galanya serba salah. Mau menulis salah, duduk salah, berdiri salah. Kesal-kesal dan kesal sekali.

Di luar sana terdengar teriakan-teriakan rakyat yang marah. Mahasiswa beroprasi dan membawa spanduk ke sana kemari. Mereka juga sedang kesal. Aroma pahit kekesalan itu tercium di mana-mana. Bahkan juga ketika aku mengunjungi sebuah mall elite seminggu yang lalu. Mbak cantik yang menawarkan parfum dengan senyum dan suara menggoda itu tampaknya tidak menyampaikan rayuan mautnya sepenuh hati. Ia juga mungkin sedang kesal.

Kenaikan harga BBM yang berdampak ke segala aspek kehidupan itu membuat kesal banyak orang. Mungkin ada kalangan yang tidak kesal karena hal itu tidak berarti apa-apa buat mereka. Tetapi sebagian besar manusia Indonesia yang bekerja banting tulang hingga osteoporosis ini pastilah merasa kesal, karena pendapat an mereka semakin hari semakin berkurang karena habis terhisap oleh bandroll harga yang terus menerus semakin panjang saja deretan angkanya.

Kesal….

Ketika kaki menginjakkan halaman kantor rasa kesal semakin menjadi. Trotoar yang sudah rapih tertata dipenuhi motor yang tidak mau antri di jalan. Mereka nyelondong seenak udel. Eh..ternyata ada juga trotoar yang masih bolong, lumayan dengan kedalaman sekitar semeter dan lubang sekitar 80 cm persegi, bukan tidak mungkin jika ada yang tiba-tiba saja terperosok ketika tengah berjalan. Gila!

Wus… bis lewat dan berterbanganlah debu-debu plus kuman sejuta rasa ….

Berjalan di tangga penyebrangan tidak kalah menyebalkannya. Ada saja tukang minta-minta yang tiab-tiba saja mencegat , bahkan konon, menghipnotis..Kalau sudah begitu itu bukan lagi tergolong tukang minta tapi garong…. Ketika mau melangkah eitss… ada kaki mungkil yang terbujur, tengah tidur lelap dalam pangkuan ibunya yang tampak dekil (mungkin itu  sudah masuk skenarionya) dan menadahkan tangan…

Melintasi tangga penyebrangan yang bergelombang, banhkan mencuat ujung-ujung lempeng besinya, terkadang bolong sehingga kita sangat harus waspada bla tidak ingin menjadi santapan mobil yang berlalu di bawahnya…. juga waspada licin karena sering atapnya hilang dan hujan asik saja molos masuk mengguyur jembatan saat ia mau……hah hah…. terus ada sampah di sana sini, juga sampah yang dikumpulkan di belakang papan iklan yang menggantung…(wahai sadarlah orang Indonesia yang joroknya keterlaluan,..anda sudah begitu kurang ajar mengotori perut ibu kalian sendiri dengan sampah-sampah yang kalian produksi setiap hari ??). Halte busway yang sempat indah selama seminggu sudah berubah menjadi kotak berlapis kaca buram yang panas, dengan lagu yang kadang-kadang terdengar, memekikkan jeritan musisi pop…entah untuk dieprdenagrkan ke siapa,..mungkin saja kepada pentugas yang berada di kotak kaca, karena mereka tidak bisa mendengar jelas…. uh uh uh

Ketika bus way datang semua penumpang tidak antri maka terpaksalah aku juga tidak antri karena kalau tidak akan didorong dan terpuruk ….. kami harus lompat dengan kegesitan kaki yang memadai, jika tidak akan terperosok dan akan jadi rempeyek tergilas ban bus.

Kursi busway sudah dekil dan bau,… tidak ada lagi sapu dan penjaga pintu yang menyapu, bis sudah menjadi bau dan terkadang juga panas karena AC yang mati…. Oh bus way… gile lu ye….

Perjalanan yang cuma singkat saja sudah membuat kesal setengah mati…. apalagi menjalani hari-hari di Indonesia. Semua penuh dengan kekesalan (!!) di kantor-2 pemerintahan, di pasar, di ruang umum, di sekolah-sekolah umum (negeri), di mesjid dan di mana saja.

Seminggu lalu, ada berita dari teman Jepang bahwa tingkat penyebaran virus flu burung mencapai 3,8 ..jadi kalau sampai 4 berarti pandemik; penyebaran melalui manusia. Gila !! Info ini tida beredar di antara masyarakat Indoneisa, tetapi di antara masyarakat asing… Dengan demikian anak-anak dan isteri Jepang dipulangkan…

Maka, semakin berkuranglah jumlah warga Jepang di sini. Banyak perusahaan tutup. Karena mereka merasa tidak aman, tidak nyaman dan tidak sehat jika harus berada di Indonesia… Ampun, ampun…mereka lebih memilih Vietnam dan Thailand atau Malaysia… Gila !!

Nah orang Indoenesia yang budiman, cobalah benahi deh pola piir jorok itu, temasuk korupsi jorok yang kalian lakukan. Ente sih enak, sudah banyak pundi-pundi terkumpul, tinggal memikirkan bagaimana menggunakannya. Lha kami ? kami masih harus berjuang setiap hari menyusuri kekesalan demi kekesalan,..meratapi negeri yang tidak kunjung membaik ini…..

Sudahlah, kekesalan ini sudah tertumpah sedikit di sini.

Terima kasih sudah memebri sedikit ruang untuk bernafas….

I still love Indonesia

 

 

Komentar bertahan »

YH

Kemarin,

Duduk di hadapanku seorang pemuda, bertubuh tinggi tegap. Mungkin sekitar 2 meter. Berkulit putih, berahang kuat dan bermata agak sipit. Senyumnya hangat. Pada awalnya kusangka ia keturunan Tionghoa, tetapi jika melihat sikap tubuhnya rasanya bukan. Akhirnya aku tahu jika pemuda itu keturunan Jepang (bernama YH).

YH, datang ke kantor untuk menanyakan soal surat yang dibawanya. Ia tidak bisa membacanya, karena berbahasa Jepang. Ketika kutanyakan, ia menjawab jika ia tidak pernah diajari bahasa Jepang oleh ayahnya yang orang Jepang. Karenanya ia ngotot untuk mengetahui apa isi surat yang diterimanya, sebab jika sangat penting ia harus segera mengirimkannya ke Kalimantan. Ternyata itu surat pemberitahuan dari kantor pensiun pemerintah Jepang. Mereka menginginkan konfirmasi mengenai kebenaran data  para pensiunan yang berhak menerima pensiun. Karena ternyata surat itu tidak mengandung sesuatu yang urgensi maka, aku mulai tergelitik untuk menanyakan hal lainnya.

YH, anak tunggal dari bapak H yang memiliki usaha di Kalimantan. Papanya ini tinggal di Indonesia, sesekali ke Jepang. Menurut YH, papanya tidak pernah menanyai keadaannya, menyentuhnya, bermain, memeluk, apalagi mengajari belajar. YH kesal dengan papanya yang kerap disebutnya ‘orang itu’. Ketika kecil, YH pernah ditampar dan ditonjok ketika melakukan kesalahan. Dikeplak di bagian kepala ? ya itu sering…. Aku tersenyum.  YH bercerita bahwa ayahnya sangat keras, tidak pernah membimbing dan hanya mengeluarkan uang untuk sekolah dan tranportasi. YH tampak marah dan kesal dengan sikap ayahnya. “Teman-teman sering bertanya ..apakah benar bapak H itu bapak saya”…”Habis dia seperti orang lain…. tidak bertanggung jawab !”.

” Saya pernah menemukan sebuah foto bayi, sangat mirip saya di waktu kecil. Ketika saya tanyakan papa mengatakan bahwa itu kakak saya, yang sekarang jadi pengacara sukses dan tinggal di Tokyo”. ” Papa juga bilang, kalau papa lebih keras terhadap kakak dibanding kepada saya”. ” Tak berapa lama kemudian papa memperlihatkan sebuah album penuh dengan foto bayi dan anak laki-laki yang memang sangat mirip dengan saya..”. ” Tetapi papa tidak pernah memberitahukan saya di mana kakak berada. ‘Orang itu’ cuma bilang kalau mungkin suatu saat saya akan ke Tokyo dan bertemu dia “.

Kepada YH saya mengatakan bahwa ia masih tetap beruntung, sebab memiliki ayah yang mau membiayai hidupnya. Cukup banyak lelaki Jepang yang tidak bertanggung jawab dan meninggalkan bayi-bayi sipit di gang-gang kumuh di Jakarta. Aku mengenal satu di antara mereka.

“Datanglah ke perpusatakaan di kantor ini, kenali ayahmu lebih jauh ” begitu ucapku ketika ia pamit. Mudah-mudahan sore itu menjadi sore yang indah untuk YH, setelah 20 tahun merasa bahwa ia tidak diingini oleh ayahnya. 

 

 

Komentar bertahan »

Hatsu Koi

Hatsu Koi

 

1978.Suatu sore di Yamaha Music Center Shibuya. Kursus folk gitar selesai. Aku segera meletakkan gitar yang telah kupakai di rak. Kenji juga melakukan hal sama. Ia melirikku sekejap. Seluruh siswa keluar kelas dengan tertib. Aku melangkah agak cepat. Khawatir melihat langit yang semakin gelap.

 

gKimi no kasa, nih payungmuc.. g suara itu mengejutkanku. Kenji. Ia tersenyum geli melihat wajahku. (eh, memangnya aku doraemon?).. Astaga, aku telah meninggalkannya di kelas. Tak berapa lama hujan mulai turun sesuai ramalan cuaca. Aku membuka payung, mengajaknya berjalan bersama. Ia memegang tangkai payung dan aku mulai melangkah di sampingnya.

 

gNadia-sanc ame mo kazemo hidosugirukara..tachiyorimasukach usulnya mengajakku mampir menunggu hujan agak reda. Hujan di bulan September memang kerap disertai angin kencang dan kamu tidak akan kuat menahan tiupan angin. Aku mengangguk. Bibirku gemetar. Malam turun dan udara mulai dingin.

 

Di sebuah kedai kopi kecil di samping departemen store Parco kami ngobrol. Kenji lebih banyak diam dibanding aku. Aku ngobrol ngalor ngidul, menceritakan berbagai kisah tentang Indonesia. Terkadang ia terbahak dan aku senang sekali melihat deretan giginya yang putih di antara bibirnya yang merah. Kenji sedikit menceritakan tentang dirinya. Ia bercita-cita menjadi musisi. Di kelas ia memang paling jago. Kurasa ia tidak perlu lagi kursus dengan tingkatan serendah kami. Seharusnya ia sudah berada di kelas advance. Teman-teman sekelas juga sangat mengaguminya, termasuk Yumi, Kana dan Eri yang sangat atraktif menarik perhatian Kenji. Mereka bahkan secara terang-terangan berlomba mengajak Kenji berkencan.

 

Diam-diam aku juga mengagumi Kenji. Sudah 6 bulan kami sekelas tapi tidak sekali pun aku berani mengajaknya ngobrol. Bagiku, pantang rasanya menegur seorang pria terlebih dahulu. Lagipula, apa alasanku untuk mengajaknya ngobrol?

 

Pesanan kami datang. Aku langsung sibuk dengan fruit parfait-ku. Tumpukan tiga scoope es krim bercampur buah, cream dan biscuit langsung kulahap. Ketika aku mengangkat wajah dari gelas es krimku, aku mendapati mata Kenji sedang memandangiku. Ia tergagap. Wajahnya memerah. Eh, seharusnya aku yang malu telah diperhatikan sekian lamac mungkincsih, eh aku ge-er.

 

g Nani,apa ? g tanyaku. Kenji tidak siap menjawab, Ia menggeleng dan melemparkan pandangannya ke luar. Di luar hujan masih saja turun.

 

Sejak sore itu, Kenji selalu menemaniku pulang. Sepulang kursus, kami menyusuri etalase butik ‘109′, mengamati orang-orang yang membuat janji di sekitar patung Hachiko, si anjing setia yang ngetop sehingga dibuatkan patung oleh warga setempat, atau pun makan sambil ngobrol di caf-cafe kecil yang berderet di sepanjang jalan. Kenji selalu mendengarkanku bercerita dan aku selalu merasa nikmat di sampingnya. Shibuya selalu hingar bingar. Lampu neon yang terang memijar-mijar menggantikan sinar mentari. Kami sering dibuat lupa hingga kaget jika malam telah larut. Tahu saja, orangtuaku pasti nyap-nyap di rumah.

 

Namun, di kelas kursus, ia seolah tak mengacuhkanku. Ia pasti sibuk mendengarkan guru kami, dan berlatih dengan kemampuan yang meningkat pesat. Kemampuannya semakin jauh melebihi kemampuan kami. Benar saja, tak lama kemudian ia lompat kelas, mendapat beasiswa dan setelah itu waktu terasa bergulir begitu cepat. Aku tidak lagi berjumpa dengannya. Hari kursus kami berbeda dan ia juga tidak pernah menghubungiku.

 

Setahun berlalu, aku tidak lagi melanjutkan kursus karena sibuk menyiapkan ujian SMP-ku. Di akhir bulan September aku menerima postcard. Undangan konser gitar di gedung Epicurus Shibuya. Di deretan nama musisi, tertulis nama Nagasawa Kenji. Tiba-tiba saja jantungku berdebar. Aku akan hadir.

 

Sore itu, aku begitu gugup. Tiba-tiba saja aku merasa tidak punya baju. Tidak punya sepatu. Uring-uringan. Baru kali itu aku berdiri lama di depan lemari. Akhirnya kuputuskan untuk menggunakan gaun selutut berwarna putih. Rambutku yang telah memanjang kubiarkan tergerai dan kuikat dengan bando putih. Sepasang anting dan kalung berbandul mutiara putih kukenakan. Musim panas baru saja lewat, sehingga kulitku yang cepat menghitam masih meninggalkan warna sisa musim panas. Sangat kontras dengan perhiasan dan gaun putihku.

 

Kursi-kursi sudah hampir terisi penuh ketika aku masuk ke dalam gedung. Aku melangkah sendiri, ke deretan kursi ke dua dari depan. Di tanganku aku membawa sebuah buket bunga lily putih. Beberapa pasang mata melirik ketika aku melintas. ( he he aku ge er lagi ).

 

Kelompok demi kelompok beraksi. Tepuk tangan menggema dengan teratur menandakan usainya pementasan mereka. Sekarang giliran pentas perorangan. Satu persatu mereka tampil. Aku tidak dapat mendengarkan permainan mereka. Namun aku bisa mendengar nafasku sendiri, juga degupan jantungku. Dadaku terasa naik turun. Aku begitu gugup. Ketika nama Kenji diumumkan aku tidak mendengarnya. Tetapi ketika sosoknya tampil di panggung aku semakin panik. Ia tampak begitu tampan dengan setelah putihnya. Jas putih itu begitu pantas dikenakannya. Ia menyebutkan judul lagu yang akan dibawakannya…. gNadiah. Aku terkejut. Membeku. Matau berkaca-kaca. Aku terhanyut. Petikan gitarnya terdengar begitu mesra. Terkadang meninggi menyayat hati. Terdengar begitu indah sekaligus perih. Rasanya lagu itu terlalu cepat usai. Semua hadirin berdiri. Tiba-tiba terdengar pekikan dari deret belakang , gKENJI !!!h. Segerombol gadis-gadis menjerit sambil melambaikan spanduk. Kenji balas melambai. Gadis-gadis itu berdesakan melewati deretan penonton. Menuju panggung. Beberapa membawa boneka, bingkisan dan buket bunga yang cukup besar. Aku termangu. Melirik buket lily kecil di tanganku. Di panggung Kenji tampak kewalahan, MC tersenyum-senyum sambil menanggapi bahwa hal itu biasa terjadi pada bintang baru. g Sudah cukup ? g ujar MC. Gadis-gadis itu turun. Kenji tampak bingung melihat ke deretan penonton. Aku berdiri, melintasi deretan penonton menuju panggung. Rasanya dadaku hampir meledak ketika matanya menatapku. MC tersenyum menggoda. Aku melihat penonton di barisan terdepan berbisik-bisik. Ruangan menjadi begitu senyap. Perlahan aku menaiki panggung, menyerahkan buket kecil dari tanganku. Kenji meraihnya, menggenggam jemariku c Ia berbisik di telingaku g Arigatou Nadiacc g. Tepuk tangan kembali menggema. Entah kali ini untuk siapa. Aku turun dari panggung. MC yang usil mengisi kekosongan. g Moushikashitaracsakki no ojyousan wac. Kyoku ni deteru Nadia san ? Jangan-jangan nona yang baru saja lewat adalah Nadia yang tampil di lagu tadi g c. Kenji tersenyum. Ia segera menghilang di balik panggung.

 

Jam 8 malam. Acara usai. Aku tidak terlalu berharap dapat bertemu dengan Kenji. Segera antri untuk keluar gedung. Gerombolan gadis-gadis yang membawa spanduk menatapku tajam. Mereka berbisik-bisik. g Gaijin.. orang asing g bisik mereka. Aku terus berlalu. gNadia,..matte ! tunggu !h . Aku mencari suara itu. Kenji menyeruak di antara kerumunan penonton. Namun gadis-gadis itu lebih cepat menangkap sosoknya. Mereka berebut minta berfoto bersama. gNadia !h teriak Kenji. g Heee??? Nadia datte ? g teriak gadis-gadis itu. Mereka memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku merasa jengah. Perlahan aku berjalan menjauhi mereka. Kenji masih tampak sibuk meladeni permintaan penggemarnya. Hatiku terbakar. Tetapi kenapa ?. Dari Epicurus, aku tidak langsung pulang. Sengaja aku mampir di warung kopi tempat kami biasa nongkrong. Namun kali ini aku tidak memesan fruit parfait. Aku memesan es kopi, kesukaan Kenji. Aku tidak pernah suka minum kopi, tapi kali ini aku ingin merasa dekat dengan Kenji. Aku meneguknya. Pahit. Aku ingin menangis. Lama aku terdiamc memandangi permaianan invader game yang tampil pada layar monitor di balik meja. Bisanya aku dan Kenji betah memainkan pertarungan ini berjam-jam.

 

gOmottatori, seperti yang kuduga. Kamu di sini Nadiach suara Kenji terdengar dekat sekali. Aku menengadah. Kenji tersenyum. Ia terus memandangiku. Betapa ingin aku memeluknya. Tapi tubuhku terasa beku. Aku tak mampu bangkit. Aku ingin menangis. Tetapi dadaku terasa terlalu panas dan mengeringkan air mataku.

 

Kenji menggenggam jemariku. Lama sekali. g Kamu cantik sekalic matamu indah dan senyummu begitu menjerat hatiku gcc Kenji menatap wajahku. Aku tak kuat dipandangi seperti itu. Lama kami terdiam ” Hisashiburi dane…. sudah lama ya kita nggak ketemu ” ucapnya. Aku tersenyum. Kami ngobrol sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Seperti biasa Kenji mengantarku. Kami berdua naik kereta Yamanote menuju Gotanda, lalu berganti kereta jurusan Oimachi. Di stasiun Hatanodai kami turun. ” Nadia chan…. mata aimasho ne…. Ore denwa suru kara . Sampai ketemu ya, aku akan menelponmu “. Aku menggeleng…. “Ashita kaeru..besok aku pulang” He? kaerutte…..maksudmu ?”. ” Kuni ni kaeru . Pulang ke tanah airku”. Kenji terkejut. Ia menggenggam tanganku. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnnya,”Ma… souiu koto ka… Begitulah… ha ha ha… kamu bukan orang Jepang sih ya..pasti suatu saat pulang…OK OK OK aku mengerti ha ha. Jya mata ne…sampai jumpa “. Kenji berlari membelakangiku. Jas putihnya berkibar menyongsong kereta. Lalu sosoknya lenyap ditelan malam.

 

Ting..ting….. angin menggerakkan kertas yang menggantung di lonceng angin. Sore itu aku tengah berkunjung ke rumah orangtuaku. Aku membuka jendela bekas kamarku. Di sana lonceng angin itu masih menggantung. 30 tahun berlalu sudah. Kertas yang menggantung sudah kuganti beberapa kali. Tetapi denting lonceng itu tetap terdengar bening. Ingatanku kembali pada hari terakhirku tinggal di Tokyo. ” Nadia chan… ore o issho ni wasurenai de ne ..jangan pernah lupakan aku ya….. Aku tidak akan menemuimu..tidak juga mengantarkanmu ke airport… Aku tidak akan kuat melihatmu…. ketika kau mendengarkan dentingan lonceng ini ingat aku ya…. setiap dentingnya menyampaikan salamku padamu…” tulisnya pada selembar kertas di atas bungkusan berisi lonceng yang kutemukan di kotak pos rumahku, keesokan paginya di hari kepulanganku ke tanah air.

 

@

Komentar bertahan »