
Hatsu Koi
1978.Suatu sore di Yamaha Music Center Shibuya. Kursus folk gitar selesai. Aku segera meletakkan gitar yang telah kupakai di rak. Kenji juga melakukan hal sama. Ia melirikku sekejap. Seluruh siswa keluar kelas dengan tertib. Aku melangkah agak cepat. Khawatir melihat langit yang semakin gelap.
gKimi no kasa, nih payungmuc.. g suara itu mengejutkanku. Kenji. Ia tersenyum geli melihat wajahku. (eh, memangnya aku doraemon?).. Astaga, aku telah meninggalkannya di kelas. Tak berapa lama hujan mulai turun sesuai ramalan cuaca. Aku membuka payung, mengajaknya berjalan bersama. Ia memegang tangkai payung dan aku mulai melangkah di sampingnya.
gNadia-sanc ame mo kazemo hidosugirukara..tachiyorimasukach usulnya mengajakku mampir menunggu hujan agak reda. Hujan di bulan September memang kerap disertai angin kencang dan kamu tidak akan kuat menahan tiupan angin. Aku mengangguk. Bibirku gemetar. Malam turun dan udara mulai dingin.
Di sebuah kedai kopi kecil di samping departemen store Parco kami ngobrol. Kenji lebih banyak diam dibanding aku. Aku ngobrol ngalor ngidul, menceritakan berbagai kisah tentang Indonesia. Terkadang ia terbahak dan aku senang sekali melihat deretan giginya yang putih di antara bibirnya yang merah. Kenji sedikit menceritakan tentang dirinya. Ia bercita-cita menjadi musisi. Di kelas ia memang paling jago. Kurasa ia tidak perlu lagi kursus dengan tingkatan serendah kami. Seharusnya ia sudah berada di kelas advance. Teman-teman sekelas juga sangat mengaguminya, termasuk Yumi, Kana dan Eri yang sangat atraktif menarik perhatian Kenji. Mereka bahkan secara terang-terangan berlomba mengajak Kenji berkencan.
Diam-diam aku juga mengagumi Kenji. Sudah 6 bulan kami sekelas tapi tidak sekali pun aku berani mengajaknya ngobrol. Bagiku, pantang rasanya menegur seorang pria terlebih dahulu. Lagipula, apa alasanku untuk mengajaknya ngobrol?
Pesanan kami datang. Aku langsung sibuk dengan fruit parfait-ku. Tumpukan tiga scoope es krim
bercampur buah, cream dan biscuit langsung kulahap. Ketika aku mengangkat wajah dari gelas es krimku, aku mendapati mata Kenji sedang memandangiku. Ia tergagap. Wajahnya memerah. Eh, seharusnya aku yang malu telah diperhatikan sekian lamac mungkincsih, eh aku ge-er.
g Nani,apa ? g tanyaku. Kenji tidak siap menjawab, Ia menggeleng dan melemparkan pandangannya ke luar. Di luar hujan masih saja turun.
Sejak sore itu, Kenji selalu menemaniku pulang. Sepulang kursus, kami menyusuri etalase butik ‘109′, mengamati orang-orang yang membuat janji di sekitar patung Hachiko, si anjing setia yang ngetop sehingga dibuatkan patung oleh warga setempat, atau pun makan sambil ngobrol di caf-cafe kecil yang berderet di sepanjang jalan. Kenji selalu mendengarkanku bercerita dan aku selalu merasa nikmat di sampingnya. Shibuya selalu hingar bingar. Lampu neon yang terang memijar-mijar menggantikan sinar mentari. Kami sering dibuat lupa hingga kaget jika malam telah larut. Tahu saja, orangtuaku pasti nyap-nyap di rumah.
Namun, di kelas kursus, ia seolah tak mengacuhkanku. Ia pasti sibuk mendengarkan guru kami, dan berlatih dengan kemampuan yang meningkat pesat. Kemampuannya semakin jauh melebihi kemampuan kami. Benar saja, tak lama kemudian ia lompat kelas, mendapat beasiswa dan setelah itu waktu terasa bergulir begitu cepat. Aku tidak lagi berjumpa dengannya. Hari kursus kami berbeda dan ia juga tidak pernah menghubungiku.
Setahun berlalu, aku tidak lagi melanjutkan kursus karena sibuk menyiapkan ujian SMP-ku. Di akhir bulan September aku menerima postcard. Undangan konser gitar di gedung Epicurus Shibuya. Di deretan nama musisi, tertulis nama Nagasawa Kenji. Tiba-tiba saja jantungku berdebar. Aku akan hadir.
Sore itu, aku begitu gugup. Tiba-tiba saja aku merasa tidak punya baju. Tidak punya sepatu. Uring-
uringan. Baru kali itu aku berdiri lama di depan lemari. Akhirnya kuputuskan untuk menggunakan gaun selutut berwarna putih. Rambutku yang telah memanjang kubiarkan tergerai dan kuikat dengan bando putih. Sepasang anting dan kalung berbandul mutiara putih kukenakan. Musim panas baru saja lewat, sehingga kulitku yang cepat menghitam masih meninggalkan warna sisa musim panas. Sangat kontras dengan perhiasan dan gaun putihku.
Kursi-kursi sudah hampir terisi penuh ketika aku masuk ke dalam gedung. Aku melangkah sendiri, ke deretan kursi ke dua dari depan. Di tanganku aku membawa sebuah buket bunga lily putih. Beberapa pasang mata melirik ketika aku melintas. ( he he aku ge er lagi ).
Kelompok demi kelompok beraksi. Tepuk tangan menggema dengan teratur menandakan usainya
pementasan mereka. Sekarang giliran pentas perorangan. Satu persatu mereka tampil. Aku tidak dapat mendengarkan permainan mereka. Namun aku bisa mendengar nafasku sendiri, juga degupan jantungku. Dadaku terasa naik turun. Aku begitu gugup. Ketika nama Kenji diumumkan aku tidak mendengarnya. Tetapi ketika sosoknya tampil di panggung aku semakin panik. Ia tampak begitu tampan dengan setelah putihnya. Jas putih itu begitu pantas dikenakannya. Ia menyebutkan judul lagu yang akan dibawakannya…. gNadiah. Aku terkejut. Membeku. Matau berkaca-kaca. Aku terhanyut. Petikan gitarnya terdengar begitu mesra. Terkadang meninggi menyayat hati. Terdengar begitu indah sekaligus perih. Rasanya lagu itu terlalu cepat usai. Semua hadirin berdiri. Tiba-tiba terdengar pekikan dari deret belakang , gKENJI !!!h. Segerombol gadis-gadis menjerit sambil melambaikan spanduk. Kenji balas melambai. Gadis-gadis itu berdesakan melewati deretan penonton. Menuju panggung. Beberapa membawa boneka, bingkisan dan buket bunga yang cukup besar. Aku termangu. Melirik buket lily kecil di tanganku. Di panggung Kenji tampak kewalahan, MC tersenyum-senyum sambil menanggapi bahwa hal itu biasa terjadi pada bintang baru. g Sudah cukup ? g ujar MC. Gadis-gadis itu turun. Kenji tampak bingung melihat ke deretan penonton. Aku berdiri, melintasi deretan penonton menuju panggung. Rasanya dadaku hampir meledak ketika matanya menatapku. MC tersenyum menggoda. Aku melihat penonton di barisan terdepan berbisik-bisik. Ruangan menjadi begitu senyap. Perlahan aku menaiki panggung, menyerahkan buket kecil dari tanganku. Kenji meraihnya, menggenggam jemariku c Ia berbisik di telingaku g Arigatou Nadiacc g. Tepuk tangan kembali menggema. Entah kali ini untuk siapa. Aku turun dari panggung. MC yang usil mengisi kekosongan. g Moushikashitaracsakki no ojyousan wac. Kyoku ni deteru Nadia san ? Jangan-jangan nona yang baru saja lewat adalah Nadia yang tampil di lagu tadi g c. Kenji tersenyum. Ia segera menghilang di balik panggung.
Jam 8 malam. Acara usai. Aku tidak terlalu berharap dapat bertemu dengan Kenji. Segera antri untuk keluar gedung. Gerombolan gadis-gadis yang membawa spanduk menatapku tajam. Mereka berbisik-bisik. g Gaijin.. orang asing g bisik mereka. Aku terus berlalu. gNadia,..matte ! tunggu !h . Aku mencari suara itu. Kenji menyeruak di antara kerumunan penonton. Namun gadis-gadis itu lebih cepat menangkap sosoknya. Mereka berebut minta berfoto bersama. gNadia !h teriak Kenji. g Heee??? Nadia datte ? g teriak gadis-gadis itu. Mereka memandangiku dari ujung kepala hingga ujung kaki. Aku merasa jengah. Perlahan aku berjalan menjauhi mereka. Kenji masih tampak sibuk meladeni permintaan penggemarnya. Hatiku terbakar. Tetapi kenapa ?. Dari Epicurus, aku tidak langsung pulang. Sengaja aku mampir di warung kopi tempat kami biasa nongkrong. Namun kali ini aku tidak memesan fruit parfait. Aku memesan es kopi, kesukaan Kenji. Aku tidak pernah suka minum kopi, tapi kali ini aku ingin merasa dekat dengan Kenji. Aku meneguknya. Pahit. Aku ingin menangis. Lama aku terdiamc memandangi permaianan invader game yang tampil pada layar monitor di balik meja. Bisanya aku dan Kenji betah memainkan pertarungan ini berjam-jam.
gOmottatori, seperti yang kuduga. Kamu di sini Nadiach suara Kenji terdengar dekat sekali. Aku menengadah. Kenji tersenyum. Ia terus memandangiku. Betapa ingin aku memeluknya. Tapi tubuhku terasa beku. Aku tak mampu bangkit. Aku ingin menangis. Tetapi dadaku terasa terlalu panas dan mengeringkan air mataku.
Kenji menggenggam jemariku. Lama sekali. g Kamu cantik sekalic matamu indah dan senyummu begitu menjerat hatiku gcc Kenji menatap wajahku. Aku tak kuat dipandangi seperti itu. Lama kami terdiam ” Hisashiburi dane…. sudah lama ya kita nggak ketemu ” ucapnya. Aku tersenyum. Kami ngobrol sebentar sebelum akhirnya memutuskan untuk pulang. Seperti biasa Kenji mengantarku. Kami berdua naik kereta Yamanote menuju Gotanda, lalu berganti kereta jurusan Oimachi. Di stasiun Hatanodai kami turun. ” Nadia chan…. mata aimasho ne…. Ore denwa suru kara . Sampai ketemu ya, aku akan menelponmu “. Aku menggeleng…. “Ashita kaeru..besok aku pulang” He? kaerutte…..maksudmu ?”. ” Kuni ni kaeru . Pulang ke tanah airku”. Kenji terkejut. Ia menggenggam tanganku. Matanya tampak berkaca-kaca. Ia menggigit bibirnnya,”Ma… souiu koto ka… Begitulah… ha ha ha… kamu bukan orang Jepang sih ya..pasti suatu saat pulang…OK OK OK aku mengerti ha ha. Jya mata ne…sampai jumpa “. Kenji berlari membelakangiku. Jas putihnya berkibar menyongsong kereta. Lalu sosoknya lenyap ditelan malam.
Ting..ting….. angin menggerakkan kertas yang menggantung di lonceng angin. Sore itu aku tengah berkunjung ke rumah orangtuaku. Aku membuka jendela bekas kamarku. Di sana lonceng angin itu masih menggantung. 30 tahun berlalu sudah. Kertas yang menggantung sudah kuganti beberapa kali. Tetapi denting lonceng itu tetap terdengar bening. Ingatanku kembali pada hari terakhirku tinggal di Tokyo. ” Nadia chan… ore o issho ni wasurenai de ne ..jangan pernah lupakan aku ya….. Aku tidak akan menemuimu..tidak juga mengantarkanmu ke airport… Aku tidak akan kuat melihatmu…. ketika kau mendengarkan dentingan lonceng ini ingat aku ya…. setiap dentingnya menyampaikan salamku padamu…” tulisnya pada selembar kertas di atas bungkusan berisi lonceng yang kutemukan di kotak pos rumahku, keesokan paginya di hari kepulanganku ke tanah air.
@