Malam selalu datang tepat pada waktunya. Menggantikan semua warna menjadi kelam. Ketika aku masih di sini, bergulat dengan kata-kata dan memaksakan cahaya neon, menggantikan cahaya mentari. Malam terus membujukku, untuk meninggalkan segala cahaya. Untuk beradu dengannya, menengelamkanku dalam pelukannya.
Arsip untuk Februari, 2007
Malam
Stroberi
![]()
Dulu, semasa kecil, tetanggaku yang orang Korea sering datang ke rumah membawa stroberi. Gadis kecil berkepang itu datang mematung di depan pagar dan selalu memaksa masuk untuk bertamu. Kami selalu menerimanya, walau terkadang aku merasa sebal karena harus melayani celotehannya. Tentu saja ia berbahasa Jepang, karena ia pun tak bisa berbahasa Korea, walau ia keturunan Korea asli. Di rumah kami, ia selalu meminta whipe cream untuk mengolesi stroberinya. Ia akan melahap stroberi itu sampai ludes dan sesekali menawariku yang hanya melotot melihat mulutnya yang penuh dengan buah stroberi yang memang besar-besar. Sebutir stroberi yang dilahapnya memang cukup besar untuk memenuhi mulut gadis berusia sembilan tahun. Biasanya, setelah melahap stroberi bawaannya dan menghabiskan whipe cream dari lemari es kami ia pulang dan berjanji akan datang lagi minggu depan. Aku yang merasa sebal sering berpura-pura tidak mendengarnya. Dasar !
Beberapa minggu lalu aku dan keluargaku menginap di sebuah villa di tengah kebun stroberi yang indah. Namun aku kecewa, karena stroberi di sana sangat kecil dan tidak sebesar stroberi-ku di masa kecil. Namun, buah berwarna merah yang menyembul dari balik daun-daun mungilnya cukup menghibur hati anak-anakku. Seperti juga si gadis kecil tetanggaku, mereka melahap stroberi dengan riang. Sayang tidak ada whipe cream saat itu. Aku jadi teringat dengan si gadis cerewet pemakan stroberi itu. Di mana dia sekarang ?
AI
Ai demam. Panasnya tak turun sejak usai menginap di perkebunan stroberi. Dokter pertama mendiagnosanya ; flu. Tapi obat yang diberikan tak kunjung membuatnya membaik. Dini hari jam 02:00 demamnya meninggi. Ai menggigil dan kami kembali membawanya ke dokter. Dokter ke-dua mendiagnosanya ; tifus, dari hasil cek darah yang dilakukan. Namun, sekali lagi obat yang diberikan tidak banyak membantu. 5 hari sudah, tetapi demam tinggi tak kunjung turun. Ai kembali menggigil. Dokter ke-tiga menyarankan agar Ai dirawat di rumah sakit, sambil terus dipantau apa penyebab demam yang dideritanya. Ai tidak mual, tidak sakit perut dan tidak juga batuk atau pun beringus. Dokter ke-empat yang juga dokter anak mencoba memberikan infus dan antibiotik yang juga dapat mengobati malaria. Maka, Ai pun diberi obat tifus, flu dan malaria. Kesehatan Ai berangsur membaik, setelah 5 hari di rumah sakit Ai kembali ceria. Alhamdulillah… ia kini sudah kembali bandel.